HomeBeritaWarta BPKH KupangAlat Sidik Cepat Pemilihan Jenis Tanaman Hutan Kota

Reserved by WHO

[..just an empty space to put something..]

Berangkat dari keberhasilan penciptaan alat sidik cepat pemilihan jenis tanaman hutan rakyat, Ir. Budiman Achmad, M.Sc, Peneliti Balai Penelitian Teknologi Agroforestry (BPTA Ciamis) bekerjasama dengan Ir. Subarudi, M.Wood, Sc, Peneliti Pusat Perubahan Iklim dan Kebijakan (Puspijak) mencoba untuk membuat alat sidik cepat pemilihan jenis tanaman hutan kota. Alat ini telah dipublikasikan pada tahun 2013 di Banten dan bisa menjadi panduan bagi Pemerintah Daerah (Pemda).

“Umumnya, Pemda menanam hutan kota berdasarkan ketersediaan jenis atau bantuan dari dinas. Padahal dalam pengembangan hutan kota harus mempunyai tujuan spesifik, seperti mengurangi polusi, konservasi, rekreasi maupun ketersediaan air,”kata Budiman.

Dalam pengembangan alat ini, Budiman menggunakan variabel topografi serta tujuan dari pengembangan dan pembangunan hutan kota tersebut. Topografi diklasifikasikan menjadi 4 kelas yaitu, kelas dataran rendah I (0-200 m dpl), kelas dataran rendah II (200-400 m dpl), kelas dataran tinggi I (400-600 m dpl) serta kelas dataran tinggi II (600 m dpl ke atas). Sedangkan tujuan pengembangan hutan kota diklasifikasikan dalam 4 kelas yaitu rekreasi, konservasi, polusi dan air.

“Jenis tanaman yang digunakan dalam alat ini, merupakan hasil penelitian hutan kota. Mayoritas adalah hasil penelitian Bapak Subarudi,”kata Budiman.

Proses pengoperasian alat ini, tidak beda jauh dengan alat sidik cepat pemilihan jenis tanaman hutan rakyat. Dimana alat ini terdiri dari dua lapis lingkaran. Lapisan pertama bersifat statis dan ukurannya lebih kecil, yang berisikan informasi topografi. Lapisan kedua bersifat dinamis dan dapat diputar, ukurannya lebih besar dan berisikan informasi jenis tanaman dan tujuan dari pengembangan/pembangunan hutan kota.

Budiman berharap bahwa alat ini dapat disosialisasikan ke tempat-tempat lain, terutama pada wilayah kota yang menjadi mayoritas penelitian hutan kota Badan Litbang Kehutanan, seperti Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi), Bopuncur (Bogor-Puncak-Cianjur), Bandung, Medan, Samarinda, Makassar, Mataram dan Denpasar.

Sedangkan menurut Ir. Ismayadi Samsudin, M.Sc., peneliti hutan kota dari Puspijak mengatakan bahwa promosi potensi sumberdaya genetik pohon-pohonan melalui upaya konservasi ex-situ pada ruang-ruang hijau di perkotaan, dan refungsionalisasi kawasan hijau, situ, danau, bantaran sungai sebagai daerah resapan air perlu dilakukan melalui pembangunan hutan kota dan ruang terbuka hijau yang terencana secara baik dan benar.

Disadari bahwa pembangunan dan pengembangan hutan kota merupakan salah satu upaya dalam mengurangi dampak negatif pembangunan fisik dan ekonomi perkotaan. Keberhasilan dari usaha ini tergantung pada tujuan serta jenis tanaman yang dipilih. Pengembangan tiga hutan kota di DKI Jakarta dengan tujuan mengurangi polusi udara dan pemilihan jenis tanaman yang tepat, berhasil menyerap karbon sebesar 220,52 ton per hektar.

sumber : www.dephut.go.id | foto : google.com